Celengan dan Ponsel Pintar

Oleh : Ramli Lahaping

Dari balik celah dinding kayu kamarnya, Rasim memandang ke sisi luar dengan perasaan pilu dan malu. Ia menyaksikan teman-temannya tengah asyik memainkan ponsel pintar, sedang ia sendiri tidak punya. Ia pun jadi iri dan sangat ingin seperti mereka.

Atas harapan besarnya itu, sudah beberapa kali ia meminta kepada ibunya agar dibelikan ponsel pintar. Tetapi kemiskinan membuat ia harus menerima penolakan. Ayahnya telah meninggal, dan ibunya hanya seorang pegawai di sebuah kios penatu.

Sebenarnya, ia memiliki alasan yang masuk akal untuk memiliki ponsel pintar. Meski ia masih duduk di bangku kelas IV SD, tetapi kadang ia perlu juga menggunakan ponsel pintar untuk urusan tugas sekolahnya. Namun sayang, ibunya tetap berkeyakinan bahwa nantinya, ia hanya akan menggunakan gawai canggihnya untuk bermain game dan bermedia sosial.

Akhirnya, ia berhenti mengharapkan belas kasih ibunya untuk sebuah ponsel pintar. Ia kemudian mulai menabung sejak enam bulan yang lalu. Ia menyisihkan uang jajannya setiap hari ke dalam celengan, demi mengumpulkan dana yang dukup untuk mewujudkan keinginannya sendiri.

Seiring dengan usaha kerasnya itu, ia pun terpaksa jajan seadanya di warung sekolah, atau bahkan tidak sama sekali. Tetapi baginya, menahan nafsu makan selama berbulan-bulan, bukanlah persoalan yang berat, asalkan ia bisa menggenggam sebuah ponsel pintar.

Tak pelak, uang tabungannya di dalam sebuah stoples biskuit, jadi semakin banyak. Hari demi hari, uang celengan tersebut terus saja bertambah. Karena itu, ia pun semakin yakin bahwa upayanya memiliki ponsel pintar, pasti akan berhasil.

Agar rencananya tidak patah di tengah jalan, ia pun memutuskan untuk merahasiakannya dari pengetahuan ibunya. Ia yakin bahwa ibunya tetap tidak akan merestui keinginannya, dengan alasan  bahwa ia hanya akan menggunakan ponsel pintarnya kelak untuk hal-hal yang tidak berguna.

Baca   Kupinjam Namamu di Sepertiga Malamku

Tetapi ia tidak mau memusingkan perihal bagaimana sikap ibunya ketika ia berhasil memiliki ponsel pintar. Lagi pula, ia merasa bahwa ibunya tidak semestinya mencampuri urusannya dengan gawainya kelak, sebab ia mendapatkannya dengan usahanya sendiri, sehingga ia bebas pula mengunakannya.

Akhirnya, kini, ia kembali memandang-mandang stoples celengannya. Ia lantas menaksir-naksir bahwa dalam waktu dekat, dananya akan cukup untuk membeli ponsel pintar. Karena itu, ia pun jadi gembira atas buaian angan-angannya sendiri.

Tetapi perasaan senangnya sedikit terganggu dengan keadaan ibunya. Hari ini, sang ibu tidak masuk kerja dan hanya terus mengurung diri di dalam kamar. Kepada seorang tetangga teman kerjanya, sang ibu beralasan bahwa ia sedang sakit dan butuh istirahat.

Meski Rasim bersikap dingin terhadap ibunya, terutama setelah permintaannya atas ponsel pintar tidak dipenuhi, ia tetap saja khawatir. Namun setelah menyelidik, sang ibu pun beralasan bahwa ia hanya sedang sakit kepala. Rasim pun menerima jawaban itu, dan tidak bertanya lagi.

Tetapi diam-diam, Rasim menaruh curiga bahwa keadaan ibunya, ada hubungannya dengan seorang duda yang menurut cerita orang-orang, tengah dekat dengan sang ibu. Apalagi, ia menyaksikan sendiri bahwa ibunya yang kemarin-kemarin kerap senyum-senyum sendiri, kini, tiba-tiba menjadi murung.

Sampai akhirnya, di tengah menungannya, Rasim mendengar ketukan di daun pintu rumahnya. Ketukan itu berulang-ulang, disertai ucapan salam dan sahutan untuk nama ibunya.

Berselang sesaat, ibunya pun terdengar melangkah ke arah pintu, kemudian menyambut tamu.

Dengan rasa penasaran, Rasim lalu bangkit dari pembaringannya. Ia lantas mengintip melalui lubang kecil pada dinding tripleks kamarnya. Hingga akhirnya, ia melihat Arman, sang kepala desa, bersama seorang pria yang entah siapa.

Baca   Masih Adakah?

Seketika pula, Rasim menaksir bahwa mereka hanya akan membicarakan permasalahan yang tidak penting baginya. Ia menduga mereka akan membahas persoalan bantuan sosial, sebagaimana yang selama ini menjadi pemicu percakapan antara ibunya dengan Arman.

Tanpa kekhawatiran apa-apa, Rasim kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia lantas terbuai lagi dengan khayalannya sendiri, bahwa ia akan memiliki ponsel pintar. Tetapi akhirnya, ia terusik mendengar pembicaraan antara ibunya dan kedua tamunya.

Tiba-tiba, ibunya terdengar menangis.

Rasim sontak bangkit dan mengintip.

“Kami harap, Ibu tak mengelak. Ada tangkapan kamera CCTV yang merekam tindakan Ibu kemarin sore,” tutur Arman.

Tangis ibunya pun semakin keras.

“Jadi, tujuan kami datang kemari adalah mencari jalan tengah,” lanjut Arman. “Apa yang Ibu lakukan sudah masuk dalam kategori tindak pidana, tetapi kami telah bersepakat untuk mengupayakan penyelesaian di luar jalur hukum.”

Merasa terpojok, Ibunya menunduk saja, sembari terus mengurai air mata.

“Aku pribadi tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian karena kasus ini,” tutur sang lelaki yang datang bersama Arman. “Tetapi bagaimanapun, bisnis adalah bisnis. Aku tentu tak ingin rugi. Karena itu, demi kebaikan kita bersama, aku ingin Ibu membayarkan uang yang seharga dengan ponsel pintar yang Ibu curi dari kiosku. Harganya satu juta. Apalagi, ibu pasti telah menggunakan ponsel itu, sehingga itu tak lagi terhitung sebagai ponsel yang baru.”

Rasim pun terkejut mendengar pokok perkara yang menjerat ibunya.

“Tetapi aku tidak punya uang sebanyak itu, Pak,” terang ibunya, sambil terisak. “Maaf. Aku terpaksa melakukannya karena anakku sangat menginginkan ponsel.”

Rasim sontak terenyuh.

“Kalau begitu, urusan ini terpaksa dibawa ke jalur hukum,” timpal sang lelaki. “Bagaimanapun, aku ini hanya seorang penjaga kios. Kalau ada kerugian tak wajar, maka akulah yang harus menanggungnya.”

Baca   Pendiam Dalam Ketegangan

Seketika pula, ibunya bersimpuh di hadapan sang lelaki. “Aku mohon, maafkan aku, Pak. Berilah aku waktu untuk membayarnya.”

Akhirnya, dengan rasa kasihan, Rasim segera mengambil celengannya, kemudian bergegas menghampiri ibunya dan dua orang tamunya. “Bayarlah dengan tabunganku ini, Bu,” katanya kemudian.

Ibunya pun terheran.

“Aku telah menabung berbulan-bulan untuk membeli ponsel, Bu. Dan kukira, jumlah tabunganku ini sudah cukup untuk membayar tagihan Ibu,” jelas Rasim.

Sontak, ibunya jadi terharu.

Beberapa saat kemudian, setelah isi celengan dihitung, jumlahnya ternyata kurang dari jumlah tagihan.

Sang ibu lantas beranjak ke kamarnya, kemudian keluar sambil membawa uang sebanyak dua ratus ribu rupiah untuk menggenapi kekurangan tagihan itu.

Akhirnya, sang lelaki pun sepakat untuk berdamai dan tidak memperpanjang perkara.

Tak lama berselang, sang lelaki dan Arman pun pergi.

“Terima kasih, Nak,” tutur sang ibu, lantas memeluk Rasim. “Maafkan Ibu telah melakukan tindakan yang salah.”

Rasim lantas membalas pelukan Ibunya. “Ibu tidak salah. Akulah yang salah, yang selama ini selalu meminta dibelikan ponsel pintar pada Ibu.”

Mereka pun saling mengeratkan pelukan atas perkara sebuah ponsel pintar yang entah akan menjadi kuasa siapa.***

Ramli Lahaping. laki-laki kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa disapa melalui Twitter (@ramli_eksepsi) atau Instagram (@ramlilahaping).

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.