Idul Fitri Sebagai Momen Refleksi Kesalehan Spiritual Dan Sosial

Oleh: Fathul Munif

Idul fitri secara terminologi memiliki arti kembali suci. Sudah seyogyanya dirayakan dengan gegap gempita seperti meraih kemenangan. Dalam sejarah Islam dijelaskan sebagaimana diriwayatkan dari Anas radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah dan pada saat itu penduduk Madinah memiliki dua hari dimana mereka bermain-main (bersenang-senang) pada kedua hari tersebut, maka Rasulullah bertanya, “Dua hari apakah ini?”, mereka menjawab, “pada masa jahiliyyah kami bersenang-senang pada kedua hari ini”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari Idul Adha dan Iedul Fithri.” (HR. Ahmad)

Dalam hal ini, Hari Raya Idul Fitri adalah penutup daripada keberlangsungan ibadah puasa ramadhan yang diperintahkan Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam Firman Allah Surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya:

“orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”) Q.S Al-baqarah ayat 183.

Bisa kita garis bawahi disini bahwa segala sesuatu tujuan daripada puasa ramadhan dalam hal ini adalah mengasah kataqwaan kita sebagai hamba Allah SWT. Menelisik lebih jauh, bisa kita fahami sejatinya taqwa adalah suatu bentuk kesadaran akan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Menurut Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar, taqwa berasal  dari kata wiqayah  yang berarti memelihara hubungan dengan Allah. Disinilah kepatuhan atas perintah dan larangannya adalah syarat untuk itu.

Untuk itu bisa kita fahami secara lebih mendalam, Puasa Ramadhan adalah dalam rangka memenuhi kewajiban umat Islam yang dalam pelaksanaannya menurut Al Quran adalah mengkokohkan ketaqwaan hamba terhadap Allah SWT dalam beragama. lebih jauh lagi dalam maksut beragama, Islam sudah menjelaskan secara gambalang tanpa tedeng aling-aling. Bahwa Islam sendiri secara bahasa berasal dari kata Salam yang berarti kesejahteraan atau keselamatan. Kesimpulan pada titik ini adalah dimana kita dalam berpuasa guna memperkokoh ketaqwaan guna menyongsong kesejahteraan atau keselamatan dalam berperan menjadi khalifah di Bumi.

Baca   Dinamika Revisi UU Pemilu, Nasib Kepala Daerah Dipertaruhkan

Berangkat dari ini, bisa kita fahami bahwa setiap beribadah dalam hal ini Puasa Bulan Ramadhan pada dasarnya bukan hanya urusan Habluminaallah (vertikal hubungan Hamba dengan Tuhan). Lebih jauh dan bisa kita fahami secara filosofis, bahwa Puasa tidak terlepas dari semangat Habluminanas (horizlsontal hubungan manusia dengan manusia).

Dalam Puasa Ramadhan, Nabi Muhammad SAW sendiri memberi tauladan dimana puasa adalah juga perkara Habluminanas. Dalam Hadisnya Rasulullah SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rasulullah SAW sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma, dan dalam bulan Ramadhan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah). Tidak hanya itu, dalam syariat dipenghujung puasa Umat Islam diwajibkan mengeluarkan Zakat yang dimana itu nantinya diberikan kepada yang berhak yaitu Fakir miskin dan lainnya. Dari 2 contoh diatas cukup menjelaskan aspek kesalehan sosial yang juga dibangun dalam perintah agama ketika menjalankan ibadah bulan puasa. Ini hanya masih mengutip dari syariat-syariat, belum lagi membedah budaya yang terjadi dalam momen ini. Sedikitnya, yang menjadi budaya lokal Umat Islam di Indonesia seperti  berbagi takjil ataupun sahur, halal bihalal, dan lainnya.

Satu contoh lain yang ditauladankan Nabi Muhammad SAW dalam mengekspresikan Hari Raya Idul Fitri, bisa kita lihat dari satu riwayat yang masyhur dalam kitab Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi . ketika Rasulullah saat menemukan anak yatim pada hari raya yang murung karna yatim ditinggal wafat ayahnya saat berperang dan ditinggal ibunya hingga tidak terurus. Nabi mendekatinya dan memberikannya tawaran seperti berikut “Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?”. Bukankah ini adalah suatu bentuk kesalehan sosial yang luar biasa, buah dari pada setiap Ibadah.

Baca   Anomali Kebebasan Pers Kita

Bukankah pembahasan ini saja sudah sangat cukup untuk kita melakukan refleksi. Dimana disini kita diperingatkan dan diberikan tauladan, bahwasannya kewajiban spiritual adalah penting yang tapi kewajiban sosial juga penting. Kedua hal ini harus berimbang, dimana agama secara syariat adalah menjadi peraturan nilai dan sosial adalah menjadi ladang amaliah kesalehan dalam menjaga keharmonisan umat manusia dan menjaga kemaslahatan menjalani kehidupan di dunia. Lebih dari ini, menurut Nabi Muhammad SAW dalam Hadis  الناسِ أَنفَعُهُم الناسِ خَيْرُ  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani)

Dari potret ini kita bisa mengambil kesimpulan untuk menjadi evaluasi bersama dimana kesalehan adalah terbagi menjadi 2, yakni kesalehan spiritual (habluminaallah) dan kesalehan sosial (habluminanas). Secara singkat, dimana kesalehan spiritual ini adalah diukur daripada ketaatan Manusia dengan Tuhan. Hal ini mencakup keimanan dan lain sebagainya. Dan kesalehan Sosial disini, diukur dari seberapa kepekaan sosial dan kebermanfaatan dalam hidup berdampingan dengan manusia yang lainya, pada seluruh profesi atau aktifitas yang kita lakukan pastinnya.

Dalam rangka mencapai kesalehan sosial ini misalnya, haruslah menjadi kesadaran seluruh Umat  Islam dalam menjalankan peran-peran sosialnya. Dari seluruh profesi, Petani, Nelayan, Guru, Hakim, Pedagang,  Dokter, Pelajar/Mahasiswa, Pengacara, Pejabat Pemerintah, dan lain sebagainya.

Karena ketika kesadaran ini tidak kita miliki, yang terjadi justru bukanlah kemaslahatan bersama melainkan kerusakan. Kita ambil contoh saja, ketika kita temui pejabat pemerintah yang tidak memiliki kesadaran untuk menjadi pihak yang menjadi bermanfaat untuk sosial kemasyarakatan, yang paling mungkin kita temui adalah kerusakan dalam skup bernegara. Ambilah contoh syarat pemimpin adalah Sidiq, Amanah, Tabligh, Fatonah seperti yang ditauladankan Nabi Muhammad SAW. Tidak adanya sifat Sidiq dan Amanah pada pemimpin, jelas adalah syarat dimana kejujuran dan sifat dapat dipercaya menjadi sifat yang wajib dimiliki.

Baca   Refleksi Harlah PMII Ke 61

Ketika ini tidak ada pada pemimpin, maka yang terjadi adalah bukan pengelolaan yang dimaksudkan pada pembangunan. Melainkan kekuasaan yang disandarkan atas kepentingan pribadi penguasa. Banyak kepentingan-kepentingan rakyat disepelekan. Korupsi diabaikan, kebinakan tak pro dengan rakyat. Dan masih banyak hal-hal sepele yang menjadikan kedholiman di negara kita khususnya. Apakah hal tersebut pantas disebut khalifah?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.