Feminisme dan Jalan Buntu (Bagian II)

Perempuan dan Budaya Patriarki

Secara sederhana budaya patriarki adalah budaya yang memberikan laki-laki kedudukan yang lebih penting dan utama daripada perempuan di ranah sosial. Budaya patriarki menjadi sebuah pohon yang sangat kuat dan mengakar lebat menembus tanah sampai saat ini, walaupun perempuan sudah bisa mengenyam pendidikan sangat tinggi. Bahkan perempuan bisa menduduki kepemimpinan yang tinggi semisal presiden Indonesia yang pernah dipimpin Megawati, hal tersebut meruntuhkan budaya patriarki tapi tidak sampai pada akarnya. Masih tersisa bahkan tidak tertebang secara keseluruhan pohon patriarki tersebut.

Patriarki hari ini menurut saya berubah makna, pada awalnya patriarki yang hanya menjadikan perempuan nomer dua, pada akhirnya mencantumkan laki-laki untuk menemani perempuan. Mungkin saja persepsi yang saya katakan adalah subjektif saya sendiri, melihat bagaimana laki-laki juga terkungkung dalam budaya daerah masing-masing. Semisal laki-laki harus menikah dengan perempuan di daerahnya sendiri, laki-laki tidak boleh keluar dari daerahnya sendiri dengan alasan apapun seperti yang digambarkan oleh film India “White Tiger”.

Di dalam film tersebut menceritakan bagaimana kondisi laki-laki dan perempuan sebenarnya pada hari ini. Apa mungkin laki-laki dan perempuan bisa keluar dari budaya patriarki yang membelenggu dua ciptaan Tuhan yang sempurna ini?

Para fiosof Barat termasuk Heidegger mengatakan sikap terdasar manusia adalah “kebebasan” tidak satupun manusia yang ingin terkungkung sedikitpun, manusia ingin melakukan apapun yang mereka inginkan – mencintai, menikah, bekerja, menempuh pendidikan, beragama, bercita-cita dan lain sebagainya.

Akan tetapi harus kita tahu kita terlingkup oleh etika-etika kehidupan. Etika-etika tersebutlah yang menjadikan manusia menjadi bernilai, dan bermartabat, jika kita melakukan apa yang kita inginkan sampai mengorbankan orang lain hal tersebut tidak bisa dibenarkan, walaupun dengan alasan emansipasi.

Saya tidak begitu sependapat dengan tokoh feminis Nawal yang merelakan segala cara untuk menjadikan perempuan setara dengan laki-laki dengan cara pembunuhan, penindasan, bahkan eksploitasi terhadap laki-laki. Seperti yang dia tulis dalam novel-novelnya, jatuhnya sang imam, perempuan dari titik nol, dan masih banyak yang lain. Lantas apa bedanya gerakan tersebut dengan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan? Bukankah perempuan sama saja dengan laki-laki? Mungkin saja jika persepktif feminis Nawal terlaksana secara utuh akan ada gerakan maskulinisme terhadap perempuan, kabar buruknya jika hal tersebut terjadi akan ada regresi tak terbatas akan permasalahan perempuan dan laki-laki.

Baca   Walisongo Sebagai Bukti Sejarah Pergerakan Islam di Nusantara

Jalan Buntu Feminisme dan Maskulinisme

Gerakan feminisme yang menganut faham Nawal akan menciptakan gerakan maskulinisme dan menjadikan problem tersebut akan menciptakan daur dan tasalsul. Saya setuju dengan pendapat Herbert Marcuse seorang filosof dari Jerman yang secara keras menentang terhadap kekerasan untuk mencapai sebuah keinginan bahkan dengan dalih kemaslahatan bersama.

Herbert Marcuse memberikan 2 opsional untuk mencapai suatu masyarakat dalam one dimensional secara konkrit. Pertama, perlu adanya pengurungan sebuah kekuasaan terhadap penguasa (the reduction of power). Reduksi kekuasaan ini berupaya untuk mengurasi kekuasaan yang menjadi-jadi, kekuasaan menjadi sebuah kekuasaan yang utuh dalam sosial masyarakat. Penguasa menjadi angkuh dan memiliki konsep kebenarannya sendiri. Sehingga menjadi penguasa yang totaliter seperti halnya Hitler. Kedua, perlu adanya reduksi perkembangan yang berlebih (the reduction of overdevelopment), reduksi perkembangan ini adalah salah satu hal yang juga pentig dalam terciptanya one imensional. Marcuse memberi pencerahan bagi umat manusia dengan mengatakan bahwa sebenarnya bukan manusia yang menindas manusia, begitupun juga bukan golongan tertentu yang menindas golongan tertentu, melainkan ada sebuah sistem yang menguasai semua orang sehingga berdampak kepada eksploitasi, dominasi, dan diskriminasi.

Gerakan feminisme dan maskulinisme berjalan lurus kepada jalan buntu jika tidak melihat secara luas terhadap pendapat yang diajukan oleh Marcuse. Jika gerakan feminisme hanya menganggap laki-laki sebagai tokoh utama dalam penindasan perempuan, ataupun perempuan menjadi hantu bagi laki-laki, hal itu adalah kesalahan besar, bagaimana tidak, kita berada dalam matriks post truth yang membuat kita bertengkar tanpa tahu titik sebuah permasalahan yang paling penting. Perempuan dan laki-laki harus bersatu memerangi sebuah sistem totaliter yang mengakar jauh di dalam dunia kemaslahatan bersama (saya bisa sebut sistem ini dengan patriarki).

Tegnologi sosial media hari ini menarik laki-laki dan perempuan dalam kubangan post truth, kita dituntun untuk menyelami permasalahan yang tidak esensial, kita memerangi orang salah, sehingga apa yang kita harapkan selalu berada di jalan yang buntu. Pada zaman prateknis dan awal industrialisasi kita akan menemukan bayak sekali manusia menindas manusia, golongan menindas golongan, akan tetapi di zaman tegnologi ini kita tidak menemukan itu, akan tetapi kita akan menemukan sebuah sistem tegnologi yang sebenarnya merangkum seluaruh realitas dan sosial dalam cengkramannya, sistem tersebut bersifat totaliter, semua orang masuk dalam ranah sistem tersebut baik dari kalangan atas maupun bawah, sistem tersebut berpengaruh dalam segala bidang termasuk sosial yang menyebabkan terhadap gerakan feminisme dan maskulinisme. Sistem ini banyak ditemukan dalam Negara maju, dan juga dirasakan di Negara yang berkembang seperti Indonesia ini. Lantas bagaimana kita bisa keluar dari sistem tersebut?

Baca   Menjadi Manusia

Materialisme vs Idealisme

Paham-paham materialism dan Idealisme menjadi rujukan dalam problematika garakan feminisme dan meskulinisme. Gerakan yang menutut sebuah kebebasan terhadap diri manusia dalam hal yang konkrit bukanlah hal yang mudah untuk diselesaikan. Materialisme menuntut sebuah bukti nyata yang bisa dicapai, dengan bagaimanapun caranya, faham tersebut juga dianut oleh gerakan sosial buruh seperti Marx. Bagi sebagian kaum idealis Marx dikatakan sosok revolusi yang memiliki memipi yang sangat indah dan tinggi, tapi hal itu bukanlah makna yang sebenarnya, kaum idealis mengucilkan Marx dengan mimpi indahnya yang sukar atau bahkan mustahil untuk tercipta. Jika kita merujuk kepada konsep dekonrtuksi Derrida, keadilan, dan hukum harus dimaknai kembali. Apakah kitasudah sampai dengan konsep keadilan yang selalu kita katakana? Apakah konsep feminisme menuntun kita ke dalam kara keadilan?

Keadilan menjadi sebuah bualan belaka di era tegnologi dan industri ini. Melihat bagaimana hukum tumpul kepada orang berkuasa, kaya, dan tajam kepada kaum rendahan dan miskin. Kaum idealis menyatakan bahwa konsep keadilan hanya bisa kita bayangkan saja, kita mimpikan setiap hari dalam tidur yang nyenyak. Disini saya bukan menganut kepada faham skeptisime buta dan akut, meainkan mempertayakan kembali konsep gerakan femisme yang sudah bercampur-baur dengan kepentigan-kepentingan lain diluar gerakan feminisme itu sendiri.

Kaum idealis menjadi altenatif dalam sebuah pembentukan one dimnsional yang dikatan Marcuse. Faham idealisme merancang sebuah pemikiran pembebasan terhadap perempuan dalam rasio kolektif manusia, meskipun pada akhirnya hal tersebut hanya menjadi sebuah gagasan. Mungkin perkataan Desartes tentang “berfikir maka aku ada” merupakan gagasan yang relevan untuk bisa kita jadikan sebuah pijakan dalam kehidupan sosial. Banyak sekali pikiran manusia, termasuk laki-laki dan perempuan tentang perempuan adalah makhluk yang lemah, perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, padahal nyatanya dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ Tuhan berfiman bahwa laki-laki dan perempuan tercipta dari satu entitas yang sama, perkataan bahwa perempuan tercipta dari tulag rusuk perempuan merupakan tafsir yang salah, tafsir tersebut berasal dari kaum Yahudi ortodoks. Jika saya memberkan pendapat antara laki-laki dan perempuan sama yang membedakan hanyalah seks atau kelamin yang menurut Nietzhe sebuah keterlemparan yng tidak bisa kita tolak dan pilih.

Baca   Teori Batas Dalam Hukum Islam Muhammad Syahrur

Mendekontruksi Makna Feminisme

Sedari dulu kita memahami gerakan feminisme merupakan gerakan pemberontakan yang dilakukan perempuan untuk memberantas budaya patriarki atau bahkan kuasa laki-laki dalam sosial dan mendiskriminasi perempuan perlu kita maknai kembali sehingga relevan untuk kita perjuangkan bersama. Laki-laki bukan sebuah musuh bagi perempuan, akan tetapi patner yang harus bersatu demi melawan sebuah diskriminasi, eksploitasi, bahkan dominasi kekuasaan, sehingga terciptalah masyarakat one dimensioanal yang diidamkan manusia.

Seperti yang saya katakan tadi bagaimana laki-laki ataupun golongan bukanlah sebuah musuh yang harus diperangi oleh kaum feminisme, melainkan sistem tegnologis yang memberantas kebebasan manusia, bahkan kabar buruknya manusia sudah mentimpan fikiran yang menindas diri mereka sendiri, bagaimana tidak, manusia diajak untuk memahami sistem tersebut, sehingga kita candu dan cenderung putus asa untuk melanjutkan kehidupan yang cerah. Menurut saya, manusia harus bebas sedari fikiran, tidak ada satupun yang bisa membelenggu dan mengungkung pikiran manusia, jikalau hal tersebut bisa tercapai manusia akan terbebas dalam segala problematika yang bertebaran di muka bumi ini. Mari kita contoh tokoh nasional Bung Hatta yang telah mencapai sebuah kebebasan dalam berfikir sehingga penjarapun bukanlah satu alat yang bisa membelenggunya dalam berfikir.

Konsumsi media secara berlebihan membuat kita candu, bahkan media yang menjadikan perempuan sebagai objek secara tidak langsung mencetak manusia dalam alam bawah sadarnya, hal tersebut yang dikatakan oleh tokoh filosof psikologi Carl Gustav Jung sebagai arceptiv. Arceptiv tersebut merasuk kepada DNA kita, dan menjadikan sebuah pemahaman yang utuh bahwa perempuan menjadi sebuah objek yang negatif dalam sebuah permasalahan, tidak sedikit kita menemukan perempuan juga ikut andil menindas, mengekploitasi, mendeskriminasi perempuan, bukankah begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.