Feminisme dan Jalan Buntu (Bagian I)

Oleh; Mohammad Badrus Sholih

ancangbaca.com- Akhir-akhir ini kita digegerkan dengan banyak berita yang berobjekan perempuan. Salah satu yang membuat saya sangat tergelitik untuk menulis adalah berita tentang pelakor (perebut laki orang) baik yang dilakukan oleh salah personel gambus Sabyan dan rekan keybordis Sabyan gambus, begitu juga yang dilakukan oleh Angel dan Jame Arthur salah satu wakil ketua DPRD Sulawesi Utara.

Dua berita tersebut menjadi sorotan yang sangat pelik dalam beberapa pecah terakhir. Dalam tulisan ini saya bukan berfokus kepada berita tentang perselingkuhan atau pelakor, akan tetapi saya akan fokus terhadap perempuan yang hamper selalu menjadi objek dalam segala pemberitaan negative di media sosial. Pertanyaan yang sangat fundamental dalam problem sosial terhadap perempuan adalah “bagaimana perempuan rentan menjadi objek dalam berita negative? Apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi kepada perempuan? Mungkinkah perempuan bisa bangkit dan melawan hal tersebut?”

Sejarah menceritakan banyak hal tentang perempuan, baik dari sepak terjang perempuan dalam menyebarkan agama Islam, pendidikan, maupun politik, tak terkecuali sejarah penindasan yang terjadi terhadap perempuan. Dalam sejarah penyebaran agama Islam kita mengenal Siti Khadijah istri pertama Nabi Muhammad SAW. Yang senantiasa menemani dan mengorbankan apapun demi misi penyebaran agama Islam oleh Nabi. Harta tahta semua dia berikan demi keberhasilan penyebaran agama Islam pertama kali. Bahkan dalam beberapa literatur mengatakan bahwa Jika Siti Khadijah meninggal dia siap tulang-belulangnya diambil untuk dijadikan perahu agar Nabi bisa berdakwah.

Di Indonesia kita tahu tokoh perempuan yang sangat masyhur yaitu, “Kartini” seorang perempuan dan juga bangsawan yang melawan terhadap budaya patriarki yang mengakar pada masyarakat sosial waktu itu, perempuan-perempuan pada saat itu tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan sedikitpun dengan alasan “perempuan tidak akan bisa merubah dunia, perempuan hanya bisa mengurus dapur, anak dan suami”, hal inilah yang mencetak Kartini untuk menjadi perempuan tangguh walaupun dia sendiri adalah seorang bangsawan, dia memperjuangan hak-hak perempuan pada waktu itu untuk belajar dan perempuan berhak akan dirinya sendiri dan sosial.

Baca   Walisongo Sebagai Bukti Sejarah Pergerakan Islam di Nusantara

Di jazirah Arab kita mengenal Nawal El-Sa’dawi, perempuan tangguh yang tidak gentar dengan ancaman-ancaman birokrat Mesir yang ingin membungkam dia untuk melancarkan misi membebaskkan perempuan. Kembali kepada sejarah perempuan di zamannya, tidak terlalu jauh dengan keadaan perempuan di Indonesia, jika saya melihat perbedaan terletak pada asumsi-asumsi birokrat yang melandaskannya dengan agama Islam. Hal ini tidak bsa dibenarkan bagi Nawal, agama yang sebenanrnya membebaskan seluruh umat manusia khususnya perempuan berakhir menjadi sebuah belenggu yang sangat kuat mengikat perempuan di pojok kehidupan dunia yang luas.

Gerakan pembebasan perempuan (Feminisme) tercipta untuk menjawab dan melawan terhadap penindasan perempuan yang dilakukan oleh oknum-oknum dan budaya patriarki yang meluas dan menjadi sebuah persepktif bahkan ideologi di masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk nomer dua yang diciptkan, pelengkap bagi laki-laki, bahkan makhluk lemah dan tidak sempurna yang diciptkan Tuhan ke alam semesta ini. Miris mendengar dan melihat persepsi tersebut, tak terkecuali perempuan yang selalu menjadi objek dalam pemberitaan negatif akhir-akhir ini, sekaan-akan kita terlempar dalam masalalu perempuan yang kelam.

Jika kita melihat segala problematika yang ada di dunia ini, baik dari penindasan, peperangan, ata bahkan pembunuhan, tidak terlepas dari 3 hal, yaitu ekspansi militer, ekspansi agama, dan ekspansi politik. Kabar buruknya ekspansi politik menjadi hal yang dominan dalam permasalahan-permasalahan publik, semisal asumsi bahwa perempuan tidak layak untuk mendapatkan pendidikan, perempuan tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin, bahkan perempuan tidak layak untuk berhak dalam dirinya sendiri.

Problem tersebut tidak lepas dari ekspansi politik kaum laki-laki untuk menguasai dunia dengan mengorbankan perempuan yang dianggap menjadi pesaing dalam tercapainya sebuah kepentingan laki-laki. Bahkan ekspansi politik tersebut dilumuri dan diolesi dengan otoritas agama di dalamnya, semisal proposisi perempuan tidak berhak menjadi seorang pemimpin yang dikuatkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 34, yang menyatakan bahwa laki-laki lebih kuat dari pada perempuan, bahkan Tuhan memberikan kelebihan tersebut hanya kepada laki-laki.

Baca   Kontradiktif Profokatif

Ayat tersebut menjadi pedoman bagi kaum laki-laki untuk melancarkan kepentingan mereka. Kabar baiknya bagi kaum perempuan, laki-laki yang bukan beragama Islam juga tidak bisa bahkan tidak sah menjadi seorang pemimpin bagi suatu kelompok dan Negara. Problem tersebut bisa kita saksikan dalam kontestasi perebutan kekuasaan Gubernur Jakarta antara kubu Anies Bawedan dan Ahok. Kubu Anies memberikan argumen bahwa selain orang Islam tidak bisa menjadi Gubernur Jakarta, sampai pada akhirnya Anies berhasil menjadi gubernur Jakarta, dan Ahok mendekam dalam jeruji besi dengan alasan penistaan agama. Anies Baswedan berhasil menjadi gubernur Jakarta sampai saat ini dengan menggunakan Ayat Al-Qur’an sebagai landasan utama untuk menjatuhkan lawannya, miris sekali.

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.