Membaca Kembali Pesantren

ancangbaca.com – Pesantren menjadi tempat meninmba ilmu agama Islam paling nyata dalam sejarah pendidikan Indonesia. Tokoh-tokoh agamawan besar lahir dari rahim pesantren. Sebut saja Gus Dur, Gus Mus dan Gus Baha. Beliau-beliau merupakan pemikir islam yang toleran, moderat serta berdakwah dengan cara yang “santuy”, anak milenial sekarang menyebutnya.

Kehadiran buku Ahmad Khadafi berjudul Dari bilik pesantren ini, mengingatkan kita perihal kehidupan lucu kiai-kiai besar pesantren di tanah air. Buku itu membuat pembaca terkekeh-kekeh membaca lembar demi lembarnya. Hingga terlena sampai halaman terakhir. Begitu kira-kira yang pembaca alami.

Di halaman awal kita bisa membaca tentang pengalaman Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Ketika itu setiap hari jum’at, para santri maupun jamaah sering kehilangan sandal atau dalam istilah ghashab. Kiai As’ad menemui dedengkot preman di kampung itu. Dedengkot preman pun, setuju untuk menjaga sandal setiap jum’atan.

Setelah menjaga sandal beberapa kali setiap jum’atan. Dedengkot preman itu mengeluhkan kepada kiai As’ad. Sebab, sandal yang dijaga preman itu merupakan sandal para penjual kacang goreng, pemulung  dan orang-orang remeh lainya. Yang pada intinya dedengkot preman menganggap secara kasta orang-orang itu secara derajat lebih rendah dibanding dedengkot preman.

Dedengkot preman itu mengingginkan ikut melaksanakan shalat jum’at dibanding menjaga sandal. Persoalan sandal yang hilang akan dijaga oleh anak buah dari dedengkot preman. Anak buah dedengkot preman melaksanakan tugas itu. Namun, juga merasakan hal yang sama merasa, hina karena menjaga sandal. Dan memutuskan ikut melaksanakan shalat jum’at dan  tugasnya  digantikan oleh anak buahnya yang lain. Pada akhirnya preman sekampung melaksanakan shalat jum’at.

Berbeda dengan kisah Kiai As’ad, cerita mengenai Gus Dur lebih membuat perut pembaca menjadi bantat karena terkekeh. Kisah 19 Ekor Anjing Peliharaan Gus Dur, di halaman 23, mengingatkan kita perihal cerdasnya beliau dalam mengelabuhi sahabat-sahabatnya ketika tinggal di Baghdad.

Baca   Positivisasi Hukum Islam Dalam Legislasi Hukum Nasional

Ceritanya ketika Gus Dur kuliah di Universitas Baghdad beliau ngontrak dengan 19 orang mahasiswa. Setiap 20 hari sekali, para mahasiswa itu memasak untuk sahabat-sahabat satu kontrakan. Para mahasiswa itu selalu menunggu jatah masakan dari Gus Dur. Pasalnya Gus Dur selalu masak kepala ikan. Yang tentunya membuat ketagihan sahabat-sahabatnya.

Tibalah saat Gus Dur harus memasak untuk sahabat-sahabatnya. Beliau pergi kepasar untuk membeli perlengkapan untuk memasak. Di Irak kepala ikan tidak untuk dimakan, namun hanya dibuang. Gus Dur menemui penjual ikan, dan meminta kepala ikan itu. Dengan dalih sebagai makanan anjing-anjingnya yang berjumlah 20 ekor. Penjual ikan itupun memberikan dengan senang hati. Karena memang kepala ikan dianggap sebagai limbah.

Dihalaman 67, pembaca disuguhkan kisah menarik dari beliau Kiai Haji Ahmad Umar Abdul Mannan dalam menghadapi santri yang nakal. Ketika itu lurah pondok membuat laporan tentang santri-santri yang nakal taatkala di pesantren. Kiai umar meminta supaya di rangking dari yang paling nakal.

Lurah pondokpun, melaksanakan tugas yang diberikan oleh Kiai umar. Setelah tugas itu selesai lurah pondok merasa senang, karena anak yang nakal akan di tangani langsung oleh Kiai Umar. Namun, ternyata selang beberapa minggu tidak ada hukuman bagi santri nakal itu oleh Kiai umar.

Lurah pondokpun memberanikan diri untuk bertanya kepada Kiai Umar perihal nama-nama santri nakal yang kemarin dicatat. Jawaban kiai umar santai “Kang, kamu kan tahu sendiri, setelah salat Tahajut, doaku ya mendoakan seluruh santri-santriku semua. Namun, ada yang Khususan, yang istimewa. Yaitu untuk para santri-santri yang kemarin kamu catat. Biar diprioritaskan.”( Dari bilik pesantren, hal 70 ).

Belajar dari para Kiai bukan hanya soal ilmu agama. Strategi berdakwah merupakan hal yang patut di teladani. Begitu pula dari kehidupan beliau-beliau kita mampu memeras sari inti, bahwa guyonan, merupakan tradisi kiai-kiai nusantara. Dan do’a merupakan kasih sayang yang sangat sakti untuk kebaikan santri-santrinya.

Baca   Flim Wonder Women Yang Perlu Kalian Tahu

Judul               : DARI BILIK PESANTREN

Penulis             : Ahmad Khadafi

Penerbit           : EA Books

Cetakan           : Pertama, November 2018

Tebal                : xxviii + 254 hlm.

ISBN                : 978-602-51693-3-3

Peresensi         : Aditya Pratama ( Mahasiswa S2 Pascasarjana IAIN Surakarta prodi Hukum Ekomi Syariah                                                                            sekaligus Pengurus PKC PMII Jawa Tengah Biro Kajian Keagamaan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.