Sufisme Sebagai Jalan Terbaik Menjaga Alam Semesta

Oleh : Shofiyul Burhan

ancangbaca – Dikehidupan modern manusia dituntut oleh zaman hidup serba praktis, dan cenderung instan. Karakteristik konsumerisme seakan sudah menjadi watak yang mengiringi keadaan tersebut, ibarat seperti kedua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan.

Gerakan kapitalis juga turut mendukung lompatan tingkat konsumerisme masyarakat, bahkan bisa dikatakan merekalah yang menjadi salah satu penyebab atau aktor di balik “iming-iming” produksi barang yang selalu baru. Semua kebutuhan manusia mulai dari sandang, papan(property) dan pangan mulai dari kebutuhan primer, sekunder sampai tersier dipenuhi semua.

Tak jarang, demi memenuhi kebutuhan pasar dan kesempatan mendapatkan pundi-pundi uang seringkali tidak di imbangi dengan penjagaan alam sekitar. Sampah menumpuk tak teruarai, akibat banyaknya prodak yang terbuat dari kemasan plastik, lahan yang makin hari makin gundul akibat eksploitasi lahan yang tak berkesudahan juga menambah angka kerusakan alam sekitar nan mengerikan. Di tambah lahan pertanian juga semakin menyempit akibat menjamurnya property perumahan yang berlomba-lomba pasang harga bersaing demi terpenuhinya target penjualan.

Sebetulnya pekerjaan itu sah-sah saja, sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang makin hari makin beranak pinak. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan menjadi keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Tetapi harus di sadari sikap individualistik pelaku usaha harus di akhiri demi kepentingan kolektif masyarakat.

Bukan sekedar memikirkan keuntungan berapa? Tetapi bagaimana hati mampu di didik untuk bersifat zuhud, tidak bergantung/kumantil dengan harta benda yang dimiliki. Menganggap harta/usaha yang dimiliki adalah titipan yang harus diberikan hak yang semestinya.

Menjadi pengusaha yang kaya raya bukan berarti tidak bisa zuhud. ukuran zuhud tidak bisa diukur oleh materi/harta yang di punyai. Istilahnya dalam kegelimangan harta tidak pernah sedikitpun hati “mengumantili”.

Baca   Menjadi Manusia

Dengan kesadaran sifat zuhud, maka akan menganggap harta adalah api yang hanya di gunakan saat dibutuhkan dan harus tetap waspada sewaktu-waktu apabila tidak hati-hati mengambilnya akan terkena percikan apinya.

Syeikh Abdul Qodir jailani sebagaimana yang dikutip oleh KH. Sahal Mahfudz Dalam artikelnya sufisme di belantara modernitas mengungkapkan”Semua harta benda dunia adalah batu ujian yang membuat banyak manusia gagal dan celaka, sehingga membuat mereka lupa terhadap Allah, kecuali jika pengumpulannya dengan niat yang baik untuk akherat. Maka bila dalam pentasharufannya telah memiliki tujuan yang baik, harta dunia itu pun akan menjadi harta akherat.”

Lanjutnya, apabila zuhud ini menjadi kepribadian/moralitas dari pengusaha maka mereka tidak akan sekalipun memikirkan seberapa besar keuntungan yang didapat dari jerih payah usahanya, yang terpenting jalan usahanya mampu memberikan kemanfaatan bagi keluarga, masyarakat, hatinya sudah merasakan kedamaian dan ketentraman, tidak ada niatan sekalipun menumpuk-numpuk harta berlebih. Andaikan rugi sekalipun, maka tidak merasa stress dan gundah gulana.

Zuhud menjadi sarana kompensasi positif terhadap usaha yang seringkali menjenuhkan pikiran, bahkan dengan sifat ini pelaku usaha mampu memaksimalnya hartanya untuk berderma, memanfatkan keuntungan usaha untuk kepentingan investasi akhirat yang jauh lebih mulia dari urusan dunia.

Mereka lebih konsen terhadap dampak yang ditimbulkan dari usahanya, apakah usahanya benar-benar bermanfaat atau sebaliknya menjadikan usahanya mempunyai nilai negatif yang menyengsarakan masyarakat.

Pengusaha Zahid akan berusaha semaksimal mungkin membuat prodak kemasan yang ramah lingkungan, sekalipun mengurangi keuntungan usahanya. Developer yang Zahid tidak sekedar menyiadakan Fasilitas umum yang apa adanya melainkan menata drainase dan saluran pembuangan limbah perumahan yang sesuai standar pembangunanya, bahkan kalau perlu menambah amal jariyahnya membuat satu petak yang khusus untuk menampung rembesan air hujan biar tidak rawan banjir.

Baca   Teori Batas Dalam Hukum Islam Muhammad Syahrur

Pengusaha tambang yang zahid baru bisa bertindak setelah mendapatkan perijinan amdal terlebih dahulu tanpa ada unsur sogok menyogok dan tipu tipuan dengan instansi pemerintah. Mereka juga akan memikirkan kesejahteraan warga masyarakat yang terdampak, terlebih fasilitas lingkungan yang harus selalu tetap Lestari walaupun menelan biaya yang tidak sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published.