Dibalik Semangkuk Mie Kang Diman

Oleh: Sindi Maulita

ancangbaca.com-Kali ini, hujan deras baru saja mengguyur desa kami. Sisa-sisa air hujan menggenang di beberapa jalan yang berlubang. Saat-saat seperti ini, membuatku memutar memoriku beberapa tahun yang lalu. Dimana beberapa anak kecil dengan bahagianya bermain genangan air hujan di jalanan. Sedangkan para orangtua berteriak meminta mereka pulang. Berbeda dengan dulu, saat ini aku sedang menunggu Ayah dengan gusar. Bolak-balik dari kamar menuju ruang tamu. Ayahku, seorang guru di salah satu sekolah swasta di daerahku. Berangkat pagi-pagi sekali dan seringkali pulang petang.

Seperti sore ini, Ayah belum sampai di gubug kami. Rumah sederhana yang Ayah bangun untuk kami sekeluarga berteduh dan beristirahat. Berbeda dengan Ibu yang sudah terbiasa dengan kepulangan Ayah yang seringkali pulang lambat. Ibu dengan tenangnya memasak masakan rumahan seperti biasanya. Hanya aku yang gusar setiap kali Ayah pulang melebihi waktu dari biasanya. Tok tok tok!!! Suara pintu kayu diketuk. Aku segera berlari ke arah pintu, yang kuyakini itu adalah Ayahku. Dan benar saja, Ayah dengan payung besarnya yang sudah ia tutup, menatapku dengan senyumannya yang hangat. Padahal aku tahu, ada lelah dibalik senyumnya.

“Ayah dari mana saja, hmm?” tanyaku sambil memeluk lengannya. Lengannya yang kokoh. Dan lagi-lagi Ayah tersenyum.

“Dari sekolah dong, Cha. Gimana sekolah kamu, Nak?” tanya Ayah. Aku menimpali dengan senyuman. Dan seperti biasa, Ayah akan mengerutkan keningnya. Aku tertawa melihat ekspresi Ayah.

“Lancar, Yah. Oh iya, Ibu di dapur. Sedang memasak.” Ayah mengangguk dan mengusap kepalaku, kemudian berjalan ke dapur. Selanjutnya, aku memilih masuk ke kamar. Menyalakan laptop dan membaca di situs online langgananku. Asik membaca, tiba-tiba pintu kamarku terdengar seperti ada seseorang mengetuknya. Kubuka, dan kulihat Ayah di depan pintu kamarku. Aku mengerutkan kening, seakan bertanya “ada apa, Yah?”

“Cha, ayo kita jalan-jalan.” Terang Ayah, to the point. Tanpa menunggu jawabanku, Ayah masuk ke kamar, mencari jaket agar aku tidak kedinginan. Ayah memang terbaik! Tanpa pamit dengan Ibu, Ayah menyalakan mesin motor dan menunggu aku naik dibelakangnya. Tak lama, motor kami mengelilingi desa yang sedikit sepi, karena hawa dingin yang membuat beberapa orang malas untuk keluar. Ayah menghentikan motornya, di depan warung mie ayam bertuliskan “MIE AYAM KANG DIMAN”

Baca   Masih Adakah?

“Ayo, Cha. Sudah sampai. Kita makan Mie ayam Kang Diman, ya?” Ayah mengingatkanku yang masih terpaku di atas kendaraan.

“Ibu kan sudah memasak, Yah. Kenapa makan mie ayam?” tanyaku. Ayah mengelus kepalaku, penuh dengan kasih sayang.

“Memang kenapa kalau Ibu memasak? Ayah tahu, setiap hujan turun dan hawa dinginnya menyentuh kulit, kamu selalu pingin mie ayam Kang Diman. Buktinya, tadi kamu nungguin Ayah pulang kerja.” Jelas Ayah. Seperti biasa, tanpa menunggu jawaban, Ayah akan menarik tanganku dan beralih merangkulku.

Suhu ruangan di dalam warung mie ayam Kang Diman sedikit hangat. Aku duduk di pojok ruangan, seperti hari-hari ketika Ayah mengajakku kesini. Paling tidak, satu bulan sekali, lebih tepatnya setelah hujan turun. Kata Ayah, pas dengan suhunya. Biasanya, kami hanya memesan satu porsi mie ayam dan dua teh hangat. Ya! Selalu seperti itu. Kata Ayah, kami harus hemat dan hidup sederhana. Meski hidup hemat, Ayah dan Ibu selalu memprioritaskan aku. Memenuhi kebutuhanku, terlebih jika itu tentang pendidikan.

Pesanan datang, dan ditujukan padaku. Aku memandang Ayah, dan Ayah menganggukkan kepala, seperti mengatakan “ayo, dimakan.” Berniat kuhabiskan mie ayam Kang Diman ini, namun seperti biasa, aku selalu sengaja tidak menghabiskan mie ayam ini dengan alasan “sudah kenyang.” Kemudian diambil alih oleh Ayah, dihabiskan tanpa sisa. Biasanya setelah makan mie ayam, Ayah akan sedikit bercerita. Tentang dunia luar yang belum bisa kujangkau. Ayah selalu bercerita tentang indahnya dunia luar, tanpa mengizinkan aku mengetahui sekeras apa dunia terhadap orang kecil seperti keluarga sederhana kami. Tanpa Ayah tahu, kebiasaanku membaca di situs online menggiringku untuk mengetahui dunia luar yang keras.

Baca   Jadi, Apa Yang Terjadi?

Ayah masih bercerita banyak hal di warung Kang Diman. Tentang kesederhanaan hidup, rasa syukur dan banyak hal lainnya. Warung mie ayam Kang Diman selalu menjadi tempat terbaik untuk kami bercerita. Selain mie ayamnya yang enak, sang pemilik warung mie ayam ini juga ramah. Kang Diman selalu mengosongkan meja tempat aku dan Ayah makan. Dan Kang Diman memang selalu tahu, kapan kami akan singgah di warungnya. Cerita Ayah tentang kehidupan dan cerita Kang Diman tentang pengalaman dan kegagalannya, membuatku menarik kesimpulan. Bahwa hidup adalah hal yang harus diperjuangkan. Ayah menghabiskan teh manisnya. Aku masih dengan penggambaran kehidupan. Sampai kalimat ajakan Ayah menyadarkanku. Sebelum pulang, Ayah berbincang ringan dengan Kang Diman, pemilik warung mie ayam yang ramah. Sampai pada akhirnya, kami pulang. Aku membawa pelajaran berharga, dan Ayah dengan kebahagiaan karena membuatku tersenyum senang. Seperti itulah kebahagiaan keluarga kami.

 

Sindi Maulita, lahir di Kendal, 06 Juni 2000. Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah di UIN Walisongo Semarang. Pribadi yang irit bicara, dan berekspresi dengan tulisan. Penikmat senja, kopi, dan pecinta drama Korea. Tulisannya, dapat ditemui di WP @Sien_ma dan Ig Sienma06.

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.