Jadi, Apa Yang Terjadi?

Oleh : Lulu Rasyid

ancangbaca.com – Saat aku membuka mata sambil melihat langit, dengan kamarku yang berwarna putih tulang. Membuatku benci. Benci dengan warna itu, warna yang mengingatkanku pada rumah sakit. Kala itu aku yang menjadi pasien.

Padahal, dilihat dari kesehatan luar dan dalam. Aku terbilang manusia yang sehat -sehat saja. Tapi aku tidak rela, jika harus pindah ke tempat lain. Hanya untuk menghilangkan pola pikir itu.

Karena tempat yang aku singgahi ini, merupakan tempat yang bisa dikatakan bagian dari hidupku. Selain dari bagian hidup juga banyak hal yang terjadi disini yang membuatku nyaman sampai saat ini.

Terlebih lagi, ibu dan bapak kos sangat baik sekali denganku. Kalau dirasa-rasakan, rasanya itu seperti tinggal dirumah sendiri, alias dengan orang tua.

Karena ibu dan bapak kos mempunyai sikap yang sangat baik sekali, terutama denganku. Aku bersyukur pada waktu itu, dimana pada saat anak-anak mencari kos-kosan yang cukup terbilang sulit-sulit mudah. Aku justru langsung mendapatkan tempat tanpa harus menunggu lama.

Melihat tembok dengan putih tulang beberapa menit. Aku pun meraih Handpone-ku sambil melihat layarnya. Waktu menunjukkan pukul jam 5 pagi. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh.

‌Setelah solat, aku terdiam. Kembali tenggelam dalam berbagai pikiran yang tidak penting. Entahlah berpikir apa, yang membuatku benci berpikir. Dilihat dari faktanya, aku memang tipikal orang yang selalu aktif dalam berpikir. Berpikir yang tanpa disadari membuatku benci untuk bangun dan sadar. Yang membuatuku ingin tidur lagi dan lagi.

Entahlah sejak kapan aku benar-benar tertidur kembali. Tiba-tiba tanpa sadar aku terbangun saat mendengar sebuah ketukan pintu kamarku.

Baca   Pendiam Dalam Ketegangan

” Tok..tok-took”…
“Mbak.. ? Mbak… Mbak Arin ada di dalam ? ” Suara ibu kos.

“Iya buk. Ada apa?”

“Saya mau ke pasar sebentar ya. Tolong jaga rumah.”

“Iya buk.”

Kosku dan tempat tinggal pemiliknya menjadi satu rumah. Mereka bagian belakang rumah, dan kami yang ngekos bagian depan rumahmya. Setiap ibu dan bapak pergi, mereka selalu menyampaikan pada anak-anak kosnya. Itulah mengapa aku merasa seperti tinggal di rumah sendiri dengan orang tua.

Dengan suara ibu kos mengetuk-ngetuk kamarku. Akupun beranjak bangun. Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Aku tertidur cukup lama. Aku keluar kamar dan merasakan kesunyian. Sepi. Sepi sekali.

Beberapa hari yang lalu, teman satu kosku Ninda. Sudah kembali ke kota asalnya. Sedangkan Azni, harus pindah kos yang lebih dekat dengan tempat kos temanya. Aku tidak bisa mencegah Azni untuk tidak pindah. Aku tidak mau egois dengan memintanya untuk tetap tinggal bersamaku. Aku harus belajar hidup sendiri sekarang. Tanpa mereka.

Aku berjalan menuju dapur dan membuka kulkas. Ternyata, tidak ada apa-apa di dalam kulkas. Hanya ada beberapa telor dan sayuran layu. Benar-benar nasib anak kos yang harus berusaha keras untuk bertanan hidup. Meskipun hanya sekedar mengenyangkan perut.

Melihat di dalam kulkas tidak ada benda selain sayuran layu dan telor. Aku pun berfikir untuk memasak Mie instan, biar cepat saji lalu ku makan. Aku beranjak ke kamar untuk mengambil satu buah mie intan. Di tengah-tengah perjalana menuju kamar. Aku teringat. ” Oh iya yah. Baru beberapa hari yang lalu aku makan Mie”.

Meskipun aku terbilang anak yang penyuka Mie Instan. Pikirku, aku juga perlu kiranya memperhatikan kesehatanku sendiri.

Baca   Puisi-Puisi Habby Luthfi U.A

Dengan begitu, aku pun terpaksa keluar sebentar untuk cari makan. Aku memilih berjalan kaki ke Warteg. Warung langganan dengan jarak 1 KM. Menu disana cukup terbilang enak-enak, juga murah-meriah sekali. Rasanya juga cocok dengan lidahku. Itulah mengapa aku sebut dengan warung langgananku.

Aku ini, termasuk orang pemilih dalam urusan makanan. Maka tak heran sekali, kalau sewaktu-waktu aku menyebutkan super endul bahkan tidak. Tidak berlebihan, ya memang begitulah lidahku. Aku sering ke warung itu, hingga penjualan pun cukup hafal denganku.

Seusai membeli, aku berjalan menuju kos. Sesampai di kos. Aku membuka bungkusan yang tadi aku beli. Menu hari ini adalah nasi telor kesukaanku ditambah dengan sambel.

Aku selalu lahap makan kalo lauk pauknya ada menu telurnya. Tapi entah kenapa, saat ini. Aku tidak selera sama sekali setelah membuka bungkusnya. Aku menjadi tidak bernafsu lagi untuk makan.

Ya… inilah aku. Dengan segala perasaan yang tidak bisa dipahami. Kadang bisa berubah dari satu suasana ke suasana lain dalam hitungan menit. Aku sendiri terkadang juga bingung, kenapa aku bisa seperti itu. Kadang juga takut, saat aku bisa berubah dengan begitu cepatnya. Aku juga sering bertanya pada diri sendiri, aku ini kenapa???
Tapi lagi-lagi, aku tidak menemukan jawabannya. Setiap hari, rasanya terus kehilangan semangat untuk diri sendiri. Aku bahkan hampir lupa, bagaimana perasaan bahagia yang sesungguhnya itu? Semua perasaan campur aduk da mengambang begitu saja. Entah dari mana asalnya itu. Dengan begitu. Aku tidak gila, kan?

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.