Menjadi Manusia

Oleh: Rusda Khoiruz

ancangbaca.com – Pada mulanya, sebelum tradisi berfilsafat dimulai di Yunani, orang lebih mengenal bahkan meyakini mitos, diambil dari kata mite/myth yang berasal dari perbendaharaan Yunani kuno: muthos, yang berarti ucapan. Muthos lebih dipahami sebagai cerita rakyat yang dipercayai bersosok dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi dalam dimensi lain pada masa lampau dan benar-benar dipercayai adanya.

Orang lebih mempercayakan seluruh pertanyaan kehidupannya pada hal-hal yang bersifat mitos dengan berbagai macamnya, mitos-mitos tersebut berupaya menjelaskan tentang asal mula dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam alam semesta dan dalam kehidupan sehari-hari, misal, pelangi digambarkan sebagai dewa atau Dewi, pelangi sebagai mitos yang demikian hanya diterima secara mentah sebagai perwujudan dewa-dewi. Hujan turun,

Hampir setiap peradaban sebelum masehi berbasis mitos seperti Yunani, Mesir, Romawi kuno dan lain-lain. Mengatakan mitos adalah sebuah hal yang buruk dirasa kurang tepat, karena mitos adalah sebuah penghayatan hidup masing-masing peradaban. Namun, ada hal yang perlu digaris bawahi, basis mitos hanya bisa berlaku dalam lingkup satu peradaban saja, mitos di Yunani jika ditawarkan ke khalayak masyarakat Mesir maka pasti ditolak, sebab penghayatan hidup mereka masing-masing berbeda. Artinya sistem mitos lebih berdasarkan kepercayaan, tertutup, tidak universal, diterima begitu saja tanpa ragu, sangat bertolak belakang dengan muatan logos yang mendasarkan jawaban pada hal yang masuk akal.

Seiring berjalannya waktu, manusia mulai kurang puas terhadap jawaban-jawaban yang ditawarkan oleh mitos, para filosof yang kelak nama-namanya dicatat dalam lembar sejarah mengajukan pertanyaan-pertanyaan berlandaskan rasa ingin tahu akan kebenaran yang sejati, bukan hasil jawaban spekulasi yang irasional, tapi berdasarkan akal Budi.

Berbekal ketidakpuasan inilah pada akhirnya mendorong manusia untuk terus menggali keterangan dan penjelasan yang lebih meyakinkan, dari sinilah filsafat bermula.

Semua sudah maklum, aktifitas filsafat dimulai ketika terjadi perubahan orientasi kehidupan manusia yang semula mitos menuju logos. Hadirnya logos, sedikit demi sedikit mengubah cara pandang manusia terhadap alam semesta. Meski hanya mampu mengubah sedikit demi sedikit, logos telah mampu mengubah sendi-sendi hidup manusia, dengan perubahan inilah kemudian revolusi pengetahuan berlangsung. Perubahan yang terjadi dari mitos menuju logos memang tidak bisa dikatakan terjadi secepat kilat. Harun Hadiwijono mengatakan bahwa “kemenangan akal atas mite mite itu tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba”. Namun, apakah setelah kehadiran logos kemudian mitos lenyap dari kehidupan manusia?

Baca   Sufisme Sebagai Jalan Terbaik Menjaga Alam Semesta

Meninjau kembali, kenyataannya mitos tidak pernah musnah dari khazanah peradaban manusia, hanya saja modus dan bentuknya terus bertransformasi seiring melajunya peradaban. Modernisasi melahirkan paradigma/parameter positivistik dan rasional dalam menghadapi realitas kehidupan, hampir semua aspek kehidupan diukur hanya dengan masuk atau tidak masuk akal, begitu juga realitas sosial diukur hanya menggunakan Indra positivistik seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan perasa. Padahal untuk membunyikan realitas secara utuh membutuhkan alat yang lebih dari kedua parameter tersebut.

Tantangan manusia di era ini ialah visual intelligent, sebut saja kecerdasan buatan yang pelan tapi pasti mampu menggantikan peran manusia sebagai manusia. Kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya,.gadget, internet, bahkan alat-alat industri yang terlampau massive penggunaannya, terbukti pada awalnya mampu membantu manusia melakukan pekerjaan menjadi lebih mudah namun, fungsi sebagai alat bantu ternyata malah melempar manusia ke dalam jebakan mematikan berupa matinya kesadaran sebagai manusia. Alat bantu telah kehilangan fungsi dasarnya, Semua itu mengakibatkan dehumanisasi besar-besaran rentang waktu abad 17an sampai abad 21 saat ini. Kesadaran postivistik dan rasional itulah yang menjadi batu pijakan majunya tekhnologi dan sains pada abad modernisasi.

Alih-alih manusia ingin lepas dari kungkungan mitos, yang terjadi malah terjebak kembali dalam irasionalitas dalam bentuk lain, akibatnya kesadaran akan dirinya sendiri terkikis sedikit demi sedikit. Kemudian, manusia kehilangan potensi dasar yang sebenarnya telah dimilikinya lantaran parameter positivistik dan rasional terlalu dipaksakan untuk hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengannya yaitu diri manusia itu sendiri, yang sifatnya menengok ke dalam diri manusia yang terdalam.

Sementara itu, untuk memahami realitas secara komprehensif dan radikal hanya mungkin dicapai dengan mendayagunakan akal Budi manusia secara optimal, akal Budi di sini tentu berbeda maknanya dengan definisi akal an-sich, kalau akal an-sich, maknanya lebih mengarah kepada hal-hal rasional dan postivistik. Sedangkan akal Budi memiliki makna yang lebih luas dibandingkan dengan akal an-sich. Untuk menjadi manusia sejati Tuhan telah membekali manusia berupa akal Budi.

Baca   Republik Nasi [Nasionalisme Islamisme]

Selama ini dalam sistem pendidikan, kita hanya mengenal dua dari enam alat manusia untuk memahami realitas yaitu akal rasional dan Indra positivistik, bisa disebut juga dengan akal an-sich, gaya dalam pendidikan kita rata-rata memakai keduanya dan berorientasi pada atau sumber dari Sains modern. Walhasil, daya guna nurani, imajinasi, intuisi dan naluri sebagai alat yang diberikan Tuhan pada manusia untuk mengarungi samudera kehidupan pun kurang terasah kepekaannya dalam membaca realitas.

Akal Budi Manusia

Dua dari enam alat yang Tuhan berikan untuk kita yaitu akal rasional dan Indra positivitik pasti semua sudah terbiasa mendaya gunakannya dalam kehidupan sehari-hari, untuk mendaya gunakan ke empat yang lain, akan saya berikan seklumit gambaran tentangnya dengan penjelasan di bawah ini.

Pertama, Aspek etis, etika, kebaikan sejatinya hanya bisa dipahami menggunakan nurani, mustahil kita tergerak untuk melakukan kebaikan jika nurani kita mati, contoh paling sederhana dalam kehidupan yaitu dengan menolong orang yang kesusahan, tertindas dan lain-lain untuk bergaul dengan lingkungan sosial ini adalah modal awal yang tidak boleh tidak harus dimiliki. Tak ayal, bilamana manusia kehilangan nurani, mungkin hukum Rimbalah yang akan berlaku di atas muka bumi ini.

Kedua, Direportase dalam Hadits Nabi Saw, manusia adalah hewan yang berakal, artinya manusia juga memiliki dalam dirinya sifat-sifat hayawan yakni naluri, tapi bedanya jika manusia dapat mendaya gunakan naluri dengan porsi dan proporsinya yang pas maka daya naluriahnya akan peka. Cinta kasih ibu kepada seorang anaknya lahir dari naluri, meski anaknya telah seberapapun berbuat durhaka padanya namun kasih ibu sepanjang masa, kata lagu anak-anak yang sering dinyanyikan waktu TK. Secara naluriah setiap insan pasti pernah tertarik,sayang kepada lawan jenisnya, meskipun tanpa repot-repot melatih naluri. Kesadaran agama pun menuntut adanya naluri. Menyangsikan naluri dapat membuat manusia tersiksa juga mengantarkan manusia dalam jeruji keterasingan.

Baca   Walisongo Sebagai Bukti Sejarah Pergerakan Islam di Nusantara

Ketiga, Selanjutnya intuisi, setara dengan pengetahuan langsung kepada Tuhan, dalam ajaran agama Islam tercatat sebagai Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan utusan-NYA. Namun, sebenarnya kalau memakai perspektif psikologi modern, intuisi adalah pengetahuan yang sebenarnya menyusut ke dalam alam bawah sadar manusia, minimal setiap pemahaman, kejadian, ingatan manusia yang pernah mampir itu tidak hilang begitu saja, tapi masuk ke alam bawah sadar. Kontemplasi, meditasi mungkin bisa melatih pengetahuan jenis ini, munculnya pengetahuan intuitif biasanya secara tiba-tiba saja seperti gambaran orang setelah khatam membaca dan paham satu isi buku seketika langsung ditanya, apa yang kamu baca? Pasti agak lupa apa saja isinya, namun ketika berdiskusi kadang kala jika ada sesuatu kita langsung bisa menangkap dengan sendirinya, Oh iya, ini pernah kubaca, kurang lebih dalam situasi demikian pengetahuan realitas yang bersifat intuitif muncul.

Keempat, Imajinasi juga menjadi suatu yang tidak boleh hilang dari diri manusia, tanpa imajinasi manusia tak akan mampu menjelajah dunia universal, dengan imajinasi manusia dapat melampaui capaian terbesar dalam kehidupan, menciptakan angan utopis meski realitas tak seindah ekspektasi juga tugas imajinasi, dalam berimajinasi minimal kita mendapat gambaran tentang sesuatu yang lebih baik dan yang kita inginkan. Bentuk ideal kehidupan juga berawal dari imaji yang ter-asah dengan tajam. Dalam beragama tanpa mendaya gunakan imaji, rasanya kurang lengkap. Khayalan tentang kehidupan setelah mati tidak mungkin bisa kita gambarkan tanpa mendaya gunakan imaji, meski sebetapa hebat imajinasi manusia juga tak akan mampu menangkap secara utuh kebesaran Tuhan. Tetapi, minimal imajinasi membawa kita dalam angan bagaimana kehidupan seharusnya dijalani dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Keenam kelebihan manusia yang diberikan oleh Tuhan tersebut selalu mengandaikan saling sinergi satu sama lain sesuai konteks yang dihadapi. Manusia, sebagai makhluk yang tercipta sempurna telah dibekali Tuhan berbagai macam kemampuan untuk mengarungi jalan terjal kehidupan. Mendaya gunakan akal Budi adalah asas utama untuk menjadi manusia sejati. Tapi pertanyaannya sudah berapa persenkah kita menggunakan semuanya dengan optimal? Mari berefleksi kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published.