Teori Batas Dalam Hukum Islam Muhammad Syahrur

Oleh : Mukti Bagus Panuntun

ancangbaca.com – Salah satu tokoh muslim kontemporer kontroversial namun mempunyai pengaruh kuat di bidang hukum islam adalah Muhammad Syahrur dengan teori batasnya. Teori batas merupakan salah satu pendekatan dalam berijtihad yang digunakan dalam mengkaji ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat yang bersisi pesan hukum) dalam al-Qur’an. Istilah batas (hudud) yang digunakan Syahrur mengacu pada pengertian “batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi di dalamnya terdapat wilayah ijtihad yang bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis.

Syahrûr menggambarkan hubungan antara al- Hanafiyyah dan al-istiqâmah, bagaikan kurva dan garis lurus yang bergerak pada sebuah matriks. Sumbu X menggambarkan zaman atau konteks waktu dan sejarah. Sumbu Y sebagai undang-undang yang ditetapkan Allah swt. Kurva (al-Hanafiyyah) menggambarkan dinamika, bergerak sejalan dengan sumbu X. Namun gerakan itu dibatasi dengan batasan hukum yang telah ditentukan Allah SWT (sumbu Y). Dengan demikian, hubungan antara kurva dan garis lurus secara keseluruhan bersifat dialektik, yang tetap dan yang berubah senantiasa saling terkait.

Teori batas syahrur menawarkan ketentuan batas minimum dan maksimum dalam menjalankan hukum-hukum Allah. Artinya hukum itu elastis asal pada aturan batas minimum dan maksimum yang telah ditentukan. Wilayah ijtihad manusia menurut syahrur asal pada aturan batas minimum dan maksimum. Elastisitas dan fleksibilitas hukum Allah seperti pemain bola yang bebas memainkan teknik bermain bola di lapangan asal masih dalam garis batas permainan yang telah ada.

Contohnya ketentuan pada hukuman potong tangan pencuri (Q.S. Al Maidah ayat 38).

 وَٱلسَّارِقُ وَٱلسَّارِقَةُ فَٱقْطَعُوٓا۟ أَيْدِيَهُمَا جَزَآءًۢ بِمَا كَسَبَا نَكَٰلًا مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيم

 Arti: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Menurut Syahrur hukuman potong tangan bagi pencuri merupakan batas maksimum. Hakim masih diperbolehkan berijtihad tentang hukuman yang pantas di terima pencuri dengan memerhatikan kondisi objektif si pencuri. Sang hakim tidak perlu menggunakan hukuman potong tangan dengan dalih menegakkan syariat, tapi dapat berijtihad antara batas maksimum dan minimum. Syahrur berpendapat bahwa substansi dari diberlakukannya hukum adalah membuat jera atau kapok si pelanggar jadi apabila dalam pemerintahan suatu negara jika tidak menerapkan sanksi potong tangan, rajam, cambuk, dera, qishah dan hukuman islam lain seperti yang terdapat dalam al qur’an dan hadist tidak bisa diklaim  sebagai negara atau pemerintahan yang kafir sebagaimana tuduhan oleh kaum fundamentalis.

Baca   Sufisme Sebagai Jalan Terbaik Menjaga Alam Semesta

Dalam kasus pakaian perempuan syahrur berpendapat bahwa batas minimum pakaian perempuan adalah satr al juyub (Q.S. An Nur ayat 31)

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Arti: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Batas minimum pada wanita adalah menutup bagian payudara, kemaluan, dan tidak bertelanjang bulat. Batas maksimumnya adalah menutup seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Dengan pendekatan ini sesungguhnya wanita yang tidak memakai jilbab pada umumnya sesungguhnya sudah memenuhi ketentuan Allah, sebab masih berada dalam wilayah batasan minimum dan maksimum. Sebaliknya wanita yang menutup sekujur tubuhnya termasuk memakai cadar sesungguhnya keluar dari huddud u llah atau melebihi batasan maksimum dalam Alqur’an.

Baca   Menjadi Manusia

Dengan teori batasnya ini Syarur melakukan dekontruksi dan rekontruksi pada metodologi ijtihad hukum, terutama dalam ayat-ayat huddud mukamat yang dianggap bersifat pasti dan bermakna penafsiran tunggal. Bagi Syarur Alqur’an dapat dimaknai secara dinamis dan memiliki alternatif penafsiran karena diturunkannya hukum pasti untuk kemaslahatan manusia dan berlaku sepanjang masa. Juga dapat dipahami secara pluristik karena makna suatu ayat bisa dikembangkan sesuai perkembangan zaman, tidak harus sesuai dengan makna ketika ayat itu turun.

Syarur ingin membuktikan bahwa ajaran islam merupakan ajaran yang relevan di setiap ruang dan waktu. Syahrur berasumsi bahwa kelebihan risalah islam didalamnya terkandung dua aspek gerak yakni gerak konstan (istiqomah) dan dinamis (hanafiyyah). Dua aspek gerak ini berada dalam bingkai teori batas  yang oleh syarur dipahami bahwa wilayah kebebasan manusia dalam berijtihad ada batasan yang telah ditempatkan Tuhan. Kerangka analisis teori batas yang berbasis dua karakter yakni aspek konstan dan dinamis ini dapat membawa islam tetap survive disegala zaman. Dari situ diharapkan lahir paradigma baru dalam pembuatan hukum islam sehingga dapat terciptanya dialektika dan perkembangan sistem hukum islam secara terus menerus.

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.