Kupinjam Namamu di Sepertiga Malamku

Oleh : Sindi Maulita

ancangbaca.com – Gemericik air terdengar syahdu disaat-saat seperti ini. Heningnya malam, menjadi teman bagi mereka yang menghabiskan waktunya untuk bermuhasabah diri. Memohon ampun atas segala dosa, meminta yang terbaik untuk masa depan, dan masih banyak doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, oleh mereka yang istiqomah menjaga diri, agar tidak lalai dalam menjaga malamnya. Dari sudut lantai dua asrama, terlihat seorang santriwati berjalan menuju arah masjid. Pandangannya yang senantiasa menunduk, lengannya yang memeluk mukena dan mushaf, serta bibirnya yang istiqomah berdzikir, indah mata memandang. Syahida Kirana,  nama santriwati itu. Ia adalah seorang mahasiswa semester akhir di pesantren.

Malam itu, Syahida duduk tenang di dalam masjid. Ketenangannya diketahui oleh beberapa santriwati yang ikut menjalankan ibadah malam seperti dirinya. Hanya saja, mereka tidak mengetahui, dalam ketenangannya, Syahida menangis dalam diam. Hatinya mengharap dan menjatuhkan diri, pasrah pada Allah. Cintanya terjaga, sebagaimana Allah menjaga bibirnya yang senantiasa berdzikir. Namun, Syahida tetaplah sama seperti teman santriwati yang lain. Hatinya sesekali goyah kala melihat seseorang yang selama ini menjadi topik dalam doanya. Ya. Cinta dalam diamnya, dan harapnya dalam doa tidak pernah terjeda. Setiap selesai berdoa untuk orang tuanya, Syahida mengirimkan surat rindu bernamakan doa untuk seseorang yang telah menjadi topik perbincangannya dengan Allah, Sang pemilik hati setiap hamba-Nya. Dititipkannya surat kerinduannya, berharap Allah akan mengabulkan apa-apa yang menjadi semoganya.

Sedangkan di sudut masjid yang lain, terlihat seorang santriwan sedang menjaga hafalannya. Matanya yang terjaga sejak satu jam yang lalu itu, tidak menampakkan rasa kantuknya. Satu jam yang lalu, tepat dia telah selesai menunaikan beberapa rakaat dalam sholat malamnya. Doa dan harapnya juga sudah Ia pasrahkan, pada Tuhan semesta alam. Manusia hanya perlu mengetahui, bahwa skenario Tuhan itu indah. Seseorang yang saling mendoakan, menjaga pandangan dan ucapan, serta saling pasrah atas apa yang Tuhan berikan, siapa sangka akan Tuhan bersamakan. Meski aamiin mereka tak serentak, meski doa yang terlangitkan tidak dalam waktu yang sama, tapi kelak mereka akan saling mempertemukan.

Baca   Gelisah Dalam Harap

Bimbingan pagi ini, diganti oleh Farhan Ahmad. Seorang santriwan yang digadang-gadang banyak santriwati. Hanya saja, mereka semua sekadar melihat ketampanan parasnya, mereka hanya cinta akan paras Farhan. Tidak!! Itu bukan cinta. Melainkan rasa kagum akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan paras setampan Farhan. Atau justru sebuah nafsu yang hadir karena zinanya mata. Berbeda dengan seorang santriwati yang duduk di salah satu bangku di depan ruangan tunggu. Kecintaannya, Ia titipkan bersama doa seraya memohon ampun jika semua harapnya adalah sebuah dosa. Kerinduannya, Ia langitkan bersama harapan-harapannya yang indah menggantung di atas sana.

Setelah menunggu cukup lama, Syahida mendapat giliran masuk untuk bimbingan bersama satu orang temannya, Syifa. Pembimbing pengganti, yang tidak lain adalah Farhan, dan satu dosen senior saling bertemu dalam satu ruang bimbingan bersama kedua mahasiswi itu. Farhan dan Syahida saling bertemu, meski sorot mata keduanya tidak saling bersitatap. Bimbingan pagi itu, mengingatkan Farhan pada masa-masa skripsinya dulu. Dimana Ia selalu menghabiskan waktu pengerjaan skripsinya di masjid. Saat itulah, takdir mempertemukannya dengan Syahida. Kala itu Syahida masih awal semester, dan seperti biasa, Syahida menghabiskan waktu paginya di dalam masjid fakultas untuk menunaikan ibadah dhuhanya.

 Setiap hari, di jam yang sama keduanya saling bertemu di masjid. Meski tidak ada obrolan, tidak saling bersitatap lama, yang ada hanya sapa sederhana sebatas adik dan kakak tingkat. Meski begitu, nyatanya pertemuan itu berlanjut sampai saat ini. Bimbingan berjalan lancar, Syifa keluar ruangan lebih dulu, karena harus mencari referensi di perpustakaan daerah. Sedangkan Syahida memilih berbincang dengan Prof. Fahri mengenai pengerjaan skripsinya. Sedangkan Farhan, memilih untuk kembali ke mejanya yang juga berada di dalam ruangan itu.

“Syahida, bagaimana kabarnya?” tanya Prof. Fahri mengawali.

“Hamdalah, sehat, Prof. Prof. Fahri bagaimana kabarnya? Dengar-dengar baru pulang umrah, ya Prof?” tanya Syahida dengan wajahnya yang tersenyum.

“Alhamdulillah, Da. Iya, baru seminggu kemarin pulang. Bagaimana, ada yang dirasa sulit untuk skripsi yang kamu ambil ini, Da?” tanya Prof. Fahri. Syahida menimpali pertanyaan Profesornya itu. Sampai tidak sadar, pembicaraan keduanya keluar dari topik awal.

Baca   Masih Adakah?

“Syahida, kamu kenal dengan Mas Farhan? Dosen muda, yang dipercaya menggantikan bimbingan yang seharusnya diisi oleh Prof Alfian.” Tanya Prof Fahri yang sorot matanya tertuju pada pada Farhan Ahmad. Yang ditanya hanya menjawab dengan senyuman.

“Mas Farhan, Syahida ini mahasiswi terbaik dari seluruh mahasiswi yang ikut bimbingan bersama saya. Apa tidak ada niat untuk menghalalkan, Mas Farhan? Jangan sampai keduluan yang lain, lho Mas. Syahida juga sudah bimbingan, saya rasa juga sebentar lagi akan selesai skripsi. Saya ingetin lagi, Mas Farhan. Gadis yang baik jangan sampai menunggu lama.” Kata Prof Fahri menggoda.

“Ah Prof ini bisa saja. Kalaupun kuliah saya selesai lebih awal, saya juga masih ada tanggungan di pesantren, Prof. Dan saya rasa, Pak Farhan sudah ada seseorang untuk dikhitbah. Bukan begitu, Pak Farhan?” Syahida menimpali diakhiri dengan kalimat tanya yang Ia tujukan kepada Farhan. Sang empunya nama itu justru tersenyum.

“Sebenarnya memang sudah ada santriwati yang ingin saya halalkan, Prof dan Mba Syahida, hanya saja waktunya belum pas. Dia adalah mahasiswi tingkat akhir, yang saya perhatikan sejak dulu, awal Ia memasuki masjid untuk sholat dhuha, Prof.” Terang Farhan. Sedang Syahida, terkejut kala mengetahui bahwa Farhan telah memiliki seseorang yang dipilihnya.

“Mas Farhan, siapa mahasiswi itu? Tidak baik menunda sebuah niat baik. Lebih baik disegerakan.” Prof Fahri mengingatkan. Syahida beristighfar di dalam hati, menguatkan hatinya. Jika memang bukan Farhan, mungkin Tuhan janjikan yang lebih indah dari ini. Disisi lain, pandangan Farhan menuju Syahida yang sedang menunduk. Di saat yang sama, Prof Fahri melihat sorot mata Farhan yang menatap Syahida. Seakan mengetahui maksud tatapan Farhan, Prof Fahri angkat bicara.

“Syahida, apa kamu sedang mengusahakan seseorang? Saya yakin, mahasiswi seperti kamu tidak meninggalkan hal sunnah yang bermanfaat, bukan?” tanya Prof Fahri pelan. Syahida mengangkat kepalanya.

“Sudah ada seseorang yang mengisi doa saya, Prof. Saya permisi dulu, Prof ada janji dengan teman. Terima kasih untuk bimbingannya, Prof.” Setelah Syahida pamit, Prof Fahri mendekati Farhan.

Baca   Puisi-Puisi Habby Luthfi U.A

“Mas Farhan, khitbahlah Syahida. Saya melihat jawaban nya di sorot mata yang kau tunjukkan. Juga melihat sorot mata Syahida setelah mendengar jawabanmu. Jangan biarkan dia salah paham. Jika selama sholat istikharah dan sholat malam yang lainnya meyakinkanmu pada Syahida, jangan biarkan dia salah paham atas jawabanmu.” Jelas Prof Fahri panjang lebar. Sedangkan Farhan, dia menundukkan kepalanya. Berusaha meyakinkan dirinya, jika Syahida akan menjawab dengan sebaik-baik jawaban.

Hari berganti hari. Pada siang hari ini, sebuah pesan singkat dari orangtua Syahida terkirim. Sebuah perintah untuk Syahida pulang ke rumah. Tanpa membalas pesan tersebut, Syahida berkemas dan meminta izin ke pesantren untuk kepulangannya. Menjelang sore hari, Syahida sampai di rumah. Di pekarangan rumahnya, terlihat mobil yang asing bagi Syahida. Mungkin tamu Abah, pikirnya. Namun, siapa sangka? Tamu itu adalah Farhan Ahmad dan keluarganya, Kakak kelasnya dulu sekaligus pembimbing pengganti Prof Alfian beberapa hari lalu. Ada perlu apa dengan Abah? Banyak pertanyaan muncul di pikiran Syahida. Sampai setelah Syahida masuk dan membersihkan diri, semua tanya di hati dan pikirannya terjawab.

“Nak, dengar-dengar Nak Farhan adalah kakak kelasmu dulu? Dan baru beberapa hari lalu menjadi pembimbing pengganti?” tanya Abah ke intinya. Syahida mengiyakan pertanyaan Abahnya itu.

“ Kedatangannya mempunyai maksud baik, Nak Farhan ingin mengkhitbahmu, Nak. Kira-kira bagaimana pendapatmu? Abah dan Umi, ikut saja.” Terang Abah. Syahida terkejut mendengarnya. Namun, tidak lama setelah beberapa pertanyaan dijawab mantap oleh Farhan, Syahida menerima Khitbah dari Farhan. Tentunya, dengan syarat keduanya harus menyelesaikan tugasnya, skripsi untuk Syahida, dan murajaah 30 kali khataman untuk Farhan. Nyatanya, kita saling mempertemukan, Mas. Terima kasih, karena sudah memperhatikan dan mendoakanku sejak lama. Bathin Syahida.

Biodata Penulis:

  Sindi maulita, lahir di Kendal, 06 Juni 2000. Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah di UIN Walisongo Semarang. Pribadi yang irit bicara, dan berekspresi dengan tulisan. Penikmat senja, kopi, dan pecinta drama Korea. Tulisannya, dapat ditemui di WP @Sien_ma dan Ig Sienma06.

About Post Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.