Pendiam Dalam Ketegangan

Oleh: Habby Lutfhi U.A

Suasana pagi itu masih seperti biasa, di mana seluruh siswa masuk dalam kelas masing –masing belajar demi meraih masa depan yang lebih layak. Tak terkecuali di kelas 8E yang tampak hikmat semua mendengarkan guru berbicara menjelaskan pelajaran, sesaat sebelum selesai pelajaran guru itu pergi ke ruang guru.

Suasana di kelas itu mendadak gaduh sesaat setelah guru tersebut meninggalkan kelas, ada yang bermain musik dengan perkusi seadanya dari meja dan kursi, di tengah kelas terdapat  sekerumpulan perempuan, ada yang berteriak – teriak menyanyi lagu yang mungkin hanya dia yang hafal, sebab yang lain terperangah melihat tingkahnya dalam bernyanyi.

Kemudian di pojokan ada satu manusia yang tidak perduli dengan keadaan sekitar, dia tetap diam dan bercengkrama dengan buku bacaannya. Sesaat orang itu menoleh ke kiri melihat betapa absurdnya teman sekelasnya saat tidak ada guru. Manusia pendiam yang hanya sibuk dengan bukunya itu berperawakan besar dan tinggi, kulitnya sawo matang, dia lambat waktu di ketahui ternyata juga memiliki satu sahabat yang postur dan perawakan sahabatnya berbanding berbalik dengan manusia pendiam itu. Semakin lama suasana di kelas tersebut semakin gaduh saja, hingga membuat manusia pendiam di pojokan itu berteriak sekencangnya,

 ‘woi, semua diam!. Jika tidak nanti ku gampar kalian satu persatu’, teriak si pendiam.

Ternyata hal itu tak cukup membuat takut para teman – temannya, tono selaku ketua kelas membalas bentakan manusia diam tersebut juga dengan lantang.

‘apa – apaan kau manusia besar, apa kau pikir ini kelas punyamu sendiri!’, bentak tono.

Manusia pendiam tersebut menimpalinya dengan kata yang kasar dan agak menantang,

Baca   Celengan dan Ponsel Pintar

 ‘bangsat, kalau kau tak terima berani apa kau denganku.?’, tono pun naik pitam,

dia merasa terhina sebab marwahnya sebagai ketua kelas terkurangi, tanpa pikir panjang tono menghampiri manusia pendiam tersebut lalu memukul kepalanya dengan begitu kencang, hal itu di barengi dengan umpatan – umpatan yang menjelekkan serta menjatuhkan martabat keluarga dari manusia pendiam tersebut. ‘brak, brak’, semua tersentak dengan suara tersebut. Suara itu berasal dari hentakan tangan manusia pendiam tersebut ke meja dan tak tersadari bahwa meja tersebut pecah.

Padahal meja dalam kelas itu terbuat dari kayu jati, bisa di bayangkan seberapa kencang dan sekuat apa tenaga manusia pendiam tersebut. Tono pun mendadak takut dan merinding, tiba – tiba manusia pendiam itu mengangkat tono di bagian kerah baju, tono pun terangkat. Wajah tono di tatap dengan begitu dalam oleh manusia pendiam tersebut, lalu dia membisikkan ke telinga tono dengan suara lirih namun masih menakutkan, ‘kini saatnya aku memberimu pelajaran’, rupanya manusia pendiam itu diam – diam menaruh dendam yang cukup lama dengan tono, dia rupanya kecewa terhadap tono yang telah menghianatinya, rupanya tono adalah sahabat dari manusia pendiam itu sejak kecil namun bermetamorfosa menjadi orang yang paling benci pada manusia pendiam tersebut, sambil memukul kepala tono manusia pendiam itu juga mengumpat kata – kata yang bersifat kenangannya dengan tono sewaktu masih bersahabat, ‘apakah kau lupa dulu kita bershabat’, rupanya tono adalah sahabat yang ia maksut tadi dengan peraawakan postur tubuh yang berbanding berbalik dengannya.

Sambil terus memukul kepalanya dia terus mengumpat sekenanya, ‘dulu yang membantu kau adalah aku, kamu itu sudah aku anggap adik, kenapa kau tega menjauhiku hanya karena aku jelek, kau biadab, kau memfitnahku di depan pacarku, kau katakan pada orang tuaku bahwa aku sering berantem di sekolah hingga orang tuaku mengurungku, apakah kau kurang puas selalu menjatuhkan ku dan keluargaku di sekolah’, dalam gerutuan manusia pendiam tersebut mata tono menangis namun air matanya berupa darah, darah itu berkucuran tak beraturan, semua teman di dalam kelas takut, mereka tak berani untuk melerai, yang perempuan menangis sendirinya sebab takut dengan situasi yang mencekam itu, si mamusia pendiam tersebut terus menerus memukul tono dengan isapan tangis, tono pun meninggal di tangan sahabatnya sendiri yang menaruh dendam padanya.

Baca   Dibalik Semangkuk Mie Kang Diman

Lalu manusia pendiam itu pun langsung pergi ke ruang guru, ia berniat dalam hati untuk menyerahkan diri dan jujur pada gurunya tersebut dengan kondisi telah menyeka air mata dan jalan yang gontai ke kanan ke kiri, hingga di ruang guru dia berkata

 ‘bu, cerita yang saya sampaikan sudah selesai bu’, lalu guru itu menimpalinya.

 ‘iya zaki, saya akan masuk kelas sekarang’, tak selesai di siti guru tersebut bertanya dengannya,

‘kenapa kamu menangis zak.?’.

zaki si manusia pendiam tersebut pun berkata,

‘saya terharu dengan cerita yang saya bacakan tadi bu’,

‘kenapa?’, tanya bu guru.

‘yang saya ceritakan tadi sama dengan situasi perpolitikan di negara ini bu, dengan berpolitik yang mulanya saudara menjadi halal untuk saling membunuh, entah dalam pembunuhan karakter atau pun pembunuhan mental’, ucap zaki sambil merenung.

 Kemudian gurunya memberikan pemahaman bahwa

‘begitulah politik zak, tidak mengenal teman abadi. Dia hanya mengenal teman sekarang atau teman nanti, tergantung kepentingan. Jika kamu nanti berpolitik, berkepentinganlah sesuai dengan nilai – nilai kemanusiaan’,

zaki pun menjawab ‘iya bu’.

Habby Luthfi Ulul Arham, Pengeja Aksara dan seorang hamba kopi dari blora. Sedang belajar di semarang sebagai minoritas dari daerah yang masih minim semangat melanjutkan pendidikan. Tepatnya di UIN Walisongo Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.