Kontradiktif Profokatif

Oleh: Habby Lutfhi U.A

Lemahnya pemahaman demokrasi bagi setiap warga Negara Indonesia menjadi salah satu faktor munculnya kegaduhan dan percikan – percikan masalah yang terjadi di Indonesia. Dan yang lebih miris adalah para actor politik yang di anggap paham system demokrasi malah menjadikannya sebagai alat untuk meneruskan propaganda di tengah masyarakat. Ketika di tarik ke belakang, proses berdirinya Negara Indonesia di bangun di atas dua pilar yaitu nasionalisme dan agama.  Jika nasionalisme sebagai blok A dan agama sebagai blok B, maka Indonesia sebaga non blok. Artinya Indonesia menganut setengah prinsip nasionalisme dan setengah prinsip agama atau dalam bahasa lain perpaduan antara konsep nasionalis dan agama.  Titik temu dari keduanya ialah pancasila dengan asas kuat bhineka tunggal ika.

Berbicara nasionalisme tentu unsur utamanya militan, sedangkan unsur utama agama ialah toleran.  Militant dan toleran dua kutub yang berbeda namun berkaitan. Dalam hal menanggapi perbedaan keduanya hamper sama namun berbeda, nasonalisme dengan paham keutuhan perbedaan, sedang agama dengan paham perbedaan yang utuh. Keutuhan perbedaan itu berarti sesuatu yang berbeda – beda di satukan menjadi kesatuan yang utuh, untuk perbedaan yang utuh itu artinya berapapun perbedaan yang ada di Indonesia di anggap lumrah dan perlu untuk mencari suatu kemaslahatan bersama.

Dari dualisme peran dan pemahaman yang terjadi di indoensia ini faktor utama suatu tatanan konsep yang begitu baik akan berhasil tergantung peran orang di lapangan, dalam kaitan ini tidak lain dan tidak bukan adalah pemuda. Sejarah pemuda dalam proses berdirinyanegara ini begitu vital, bahkan bung karno selaku presiden pertama RI pernah berkata dalam orasinya yang fenomenal, ‘’beri aku 10 orang tua maka akan ku cabut gunung semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda maka kan ku guncang dunia’’, kurang lebih begitu. Artinya perubahan suatu tatanan kehidupan tergantung pada pemikiran visioner dan revolusioner dari pemuda.

Baca   Feminisme dan Jalan Buntu (Bagian I)

Di Indonesia demografi pemuda di bagi menjadi tiga, yang pertama ialah pemuda di desa yang minim pengetahuan dan kurangnya asupan pembelajaran dengan orientasi sederhana apa yang ku bisa. Ke dua, pemuda yang terstempel sebagai seorang mahasiswa yang masih menjaga keumurnian berpikir dan nalar kritisnya dengan orientasi jika mereka bisa, aku pun harus bisa. Ke tiga, pemuda yang sudah masuk dalam system intansi pemerintah yang pola berpikirnya sedikit terkontaminasi  kepentingan elit atau golongan dengan orientasi aku lebih bisa dan tahu dari pada mereka yang bisa.

Yang terus menjadi pekerjaan rumah ialah bagaimana pemimpin Negara meramu subjek pemuda sedmikian rupa dengan tupoksi yang sesuai dengan kapasitas serta kemampuan di bidangnya masing – masing. Sudah sangat begitu jelas dari awal berdirinya Negara ini sangat ambiguitas dalam menentukan arah dan rel yang di laluinya. Dengan tidak tegasnya konsep demokrasi menjadi poros utama timbulnya konflik – konflik sosial di tengah masyarakat. Peran agama pada fungsi tatanan kehidupan, peran budaya pada tatanan harga diri. Kemudian Negara hadir dengan fungsi apa?.

Sependek pengetahuan penulis  Negara hadir dengan fungsi kolektivisme. Sebab Negara ini di bangun atas kesepakatan  perbedaan. Artinya, dari perbedaan – perbedaan yang ada di indoneasia menyepakati untuk bersatu tanpa memikirkan egoisme golongan. Melihat situasi saat ini faktor perbedaan di gunakan rujukan untuk memecah belah Negara dengan menganggap pemikirannya benar dan menyalahkan yang lain, hal inilah faktor yang menjadikan perbedaan – perbedaan lain perlu menyuarakan kebenarannya sendiri. Kontradiktif yang terjadi di Negara ini telah mengakibatkan efek buruk bagi warga negaranya untuk mengaburkan paham bhineka tunggal ika, ini bukan perkara biasa. Negara harus hadir dan adil untuk mencegah terjadinya perang saudara di Indonesia, dan tentu muara dari semua kontradiktif yang semula tenang menjadi gaduh ialah kepentingan.

Baca   Teori Batas Dalam Hukum Islam Muhammad Syahrur

Leave a Reply

Your email address will not be published.